Entri Populer
-
Plakat Panjang Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: imam bonjol, periode I, plakat panjang | 0 komentar Lalu...
-
Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: periode VI, ustadz armen halim nar...
-
INILAH BUKTI KEBAIKAN PEMERINTAH SAUDI “WAHABI” UNTUK SANTRI,PESANTREN & KYAI NU INDONESIA, PALESTINA & MUSLIMIN DUNIA : Sambutan ya...
-
TUANKU HAJI MISKIN, PENABUR BENIH PEMBAHARUAN 3 Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 09 Juli, undefined Label: periode I, tuanku haji ...
-
Dua peristiwa yang menyebabkan tuanku nan renceh merubah sikapnya menajadi keras dan menebarkan "perang agama" adalah: 1. pengadu...
-
Jumat, September 30, 2011 PostHeaderIcon Banser bergabung dengan Katholik demo anti Radio Islam Jumat, September 30, 2011 | Diposkan oleh Ma...
-
Kategori Tauhid Prioritas Utama Kewajiban Memberikan Perhatian Kepada Aqidah Tidak Berarti Melalaikan Syariat Yang Lainnya Selasa, 18 Mei 20...
-
Kasus Tanah Fadak Seperti biasa, Syi’ah telah menciptakan kisah-kisah fiktif berdasarkan kekuatan imajinatif mereka yang keruh. Mereka cipt...
-
TUANKU HAJI MISKIN, PENABUR BENIH PEMBAHARUAN 1 Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 08 Juli, undefined Label: periode I, sejarah para...
-
PENGERTIAN SEJARAH Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: babad, hikayat, Pengertian sejarah, riwayat, tambo |...
Tampilkan postingan dengan label almanhaj.or.id/tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label almanhaj.or.id/tauhid. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 November 2011
Tauhid R almanhaj.or.id - Tinggal Di Lingkungan Pelaku Kesyirikan
Kategori Tauhid Tinggal Di Lingkungan
Pelaku Kesyirikan Senin, 19 April 2004 09:56:39 WIB TINGGAL DI LINGKUNGAN PELAKU KESYIRIKAN Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Seorang laki- laki tingal di lingkungan suatu jamaah yang suka ber-istighatsah kepada selain Allah. Bolehkan dia shalat (menjadi makmum) di belakang mereka. Wajibkah dia hijrah dari mereka ? Apakah kesyirikan mereka termasuk syirik besar ? Dan apakah ber-wala kepada mereka sama seperti ber-wala kepada orang kafir yang sesungguhnya ? Jawaban.
Jika jamaah yang Anda tinggal bersama mereka itu keadaannya memang seperti yang Anda ceritakan, yaitu ber- istighatsah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang telah meninggal, orang yang tidak hadir (tidak ada bersamanya), pohon, batu, bintang-bintang, dan selainnya, maka mereka musyrik syirik besar, keluar dari agama Islam. Tidak boleh
ber-wala kepada mereka sebagaimana tidak boleh ber-wala kepada orang kafir. Tidak sah shalat di belakang mereka dan tidak boleh bergaul dengan mereka ataupun tinggal di tengah- tengah mereka, kecuali bagi orang yang ingin mengajak mereka kepada kebenaran di atas petunjuk dan ada harapan mereka akan menerima ajakan serta dia dapat memperbaiki keadaan agama mereka. Jika tidak bisa, wajib baginya hijrah dari mereka dan mencari jama'ah lain yang mau bersama-sama bahu membahu membangun pondasi Islam dan cabang-cabangnya,
serta menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika dia tidak mendapatkan jamaah seperti itu, maka hendaknya dia berlepas diri dari jamaah-jamaah yang ada walaupun terasa berat. Hal ini berdasarkan hadits yang shahih dari Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu ia berkata. "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir terjerumus ke dalamnya. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini (yaitu Islam). Apakah sesudah kebaikan in ada kejelekan ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ya'. Aku bertanya lagi, 'Apakah sesudah kejelekan itu ada kebaikan ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ya, tetapi padanya ada dakhan [1]'. 'Apa dakhan-nya ?' tanyaku. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Suatu kaum yang bersunnah bukan dengan sunnahku dan mengambil petunjuk bukan dari petunjukku. Kalian mengetahui siapa mereka dan kalian ingkari'. Aku bertanya lagi, 'Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?'. 'Ya, para dai yang menyeru di atas pintu-pintu Jahannam. Siapa saja yang mengikuti mereka, akan mereka jebloskan ke dalamnya'. Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku berkata, 'Ya Rasulullah, gambarkan keadaan mereka kepada kami'. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Mereka dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita'. Aku berkata, 'Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan jika kami mendapati mereka ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Tetaplah bersama jama'ah kaum muslimin dan imam mereka'. Aku bertanya, 'Jika mereka tidak memiliki jama'ah dan juga imam?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tinggalkan jamaah itu semuanya, sekalipun engkau harus menggigit akar pohon, sampai kematian datang kepadamu sedang dalam keadaan seperti itu". [Hadits Riwayat Bukhari VIII/92, Muslim Syarah Nawawi XII/236, Abu Dawud IV/445, 447] Semoga shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. [Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah 1/102-103, Fatwa no. 2787 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad- Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa'dah 1423H Hal. 8]
_________
Fotte Note
[1]. Kabut/asap. Maksud beliau bahwa kebaikan (Islam) di saat itu tidak lagi murni, melainkan sudah bercampur dengan kerusakan/ kejelakan, -pent © copyleft almanhaj.or.id seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.
Tauhid S almanhaj.or.id - Andil Para Wali Dalam Pengaturan Alam !?
Kategori Tauhid Andil Para Wali Dalam
Pengaturan Alam !? Kamis, 29 April 2004 07:07:48 WIB ANDIL PARA WALI DALAM PENGATURAN ALAM !? Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Saya telah mendengar dan melihat dengan kedua mata saya orang-orang yang mengatakan bahwa para
wali memiliki andil di dalam (mengatur) alam dan diri seseorang. Mereka mengatakan bahwa para wali memiliki empat puluh wajah ; bisa dilihat dalam bentuk manusia, ular, singa dan sebagainya. Mereka pergi ke pekuburan dan tidur atau bergadang di sana (karena mengharap kesembuhan dan lain- lain). Mereka mengatakan bahwa (pada saat seperti itu) wali tersebut berdiri di hadapan mereka dan berkata, 'Pulanglah karena sesungguhnya kamu telah sembuh'. Apakah perkataan seperti in benar atau tidak ? Jawaban.
Para wali tidaklah memiliki pengaturan (apapun) pada diri seseorang. Apa yang Allah berikan kepada mereka dari sebab seperti apa yang Allah berikan kepada manusia yang lain. Mereka tidak memiliki kemampuan melakukan hal-hal yang luar biasa. Tidak mungkin mereka bisa berubah wujud menjadi selain wujud manusia, baik dalam wujud ular, singa, kera, atau binatang yang lain. Kemampuan seperti itu hanya Allah berikan khusus kepada malaikat dan jin. Disyari'atkan pergi ke pekuburan untuk berziarah dan mendoakan penghuninya semoga mendapat pengampunan dan rahmat dari Allah. Tidak boleh menziarahi kubur untuk meminta berkah dan kesembuhan dari penghuninya, memohon kepadanya agar menghilangkan
kesusahan-kesusahan
(yang dihadapi) dan mengabulkan keinginan- keinginan. Bahkan yang seperti itu adalah syirik besar, seperti halnya menyembelih (kurban) untuk selain Allah juga syirik besar. Sama saja apakah itu dilakukan di kubur para wali ataupun bukan. Apa yang anda ceritakan tentang mereka itu bertentangan dengan syari'at, bahkan termasuk bid'ah yang mungkar dan keyakinan syirik. Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. [Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah 1/104, Fatwa no. 3716 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad- Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa’ dah 1423H Hal. 8] © copyleft almanhaj.or.id seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.
bermakmum dibelakang pelaku kesyirikan
Kategori Tauhid Bermakmum Di
Belakang Pelaku
Kesyirikan Senin, 3 Mei 2004 08:19:56 WIB BERMAKMUM DI BELAKANG PELAKU KESYIRIKAN Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Seorang khatib
masjid di salah satu desa di daerah kami tinggal adalah seorang sufi dari tarekat Sadziliyah -begitu mereka menyebut kelompok mereka-. Orang ini mengajak dan mengajar masyarakat untuk bertawassul dengan makhluk Allah, seperti para nabi dan para wali. Dia mengajak orang-orang untuk menziarahi pekuburan. Dia membolehkan bersumpah dengan nama
nabi dan wali, dan ada kafarah (denda) jika melanggarnya. Kami, sebuah jama'ah dari jamaah kaum muslimin, telah mengajaknya berdiskusi tentang kesalahan yang dikerjakan dan diajarkan. Namun, ia selalu berkilah dan berdalil dengan hadits- hadits dhaif (lemah) dan maudhu (palsu). Bolehkah kami bermakmum di belakang orang ini berhubung kami belum merampungkan
pembangunan masjid kami ? Kami telah berusaha mengumpulkan infaq dan shadaqah, tetapi sampai sekarang belum selesai juga. Kami mengharap fatwa Anda atas pertanyaan kami ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kita semua taufikNya. Selain itu, mereka juga mengkafirkan para masyaikh, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, semoga Allah merahamati keduanya. Jawaban.
Ber-istighatsah kepada orang-orang yang telah meninggal, berdo'a kepada mereka saja tanpa berdo'a kepada Allah atau juga berdo'a kepada Allah, adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Sama saja baik yang diminta itu nabi ataupun bukan nabi. Begitu pula, berdo'a kepada (orang yang masih hidup tetapi) tidak hadir (tidak di tempat) adalah syirik besar, mengeluarkan pelakunya dari Islam -kita berlindung kepada Allah darinya-. Tidak sah shalat dibelakang mereka disebabkan kesyirikan mereka. Adapun orang yang ber-istighatsah hanya kepada Allah saja dengan cara bertawassul
menggunakan
kedudukan orang-orang yang telah meninggal itu, atau berkeliling di kubur mereka dengan tidak meyakini bahwa mereka dapat memberi pengaruh, tetapi hanya berharap kalau kedudukan mereka di sisi Allah akan menjadi sebab dikabulkannya doa, maka dia adalah seorang mubtadi (pelaku bid'ah). Dia berdosa karena menggunakan wasilah atau cara yang syirik. Dikhawatirkan cara itu dapat menggiringnya kepada syirik besar. Kami memohon kepada Allah agar menolong kalian untuk dapat menyebarkan tauhid ini dan membela kebenaran serta memerangi para pelaku bida'ah. Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. [Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah 1/105-106, Fatwa no. 4154 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad- Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa'dah 1423H Hal. 8] © copyleft almanhaj.or.id seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.
Tauhid U almanhaj.or.id - Nama-Nama Dan Sifat Allah Termasuk Aqidah
Kategori Tauhid Nama-Nama Dan Sifat
Allah Termasuk
Aqidah Sabtu, 15 Mei 2004 07:30:42 WIB NAMA-NAMA DAN SIFAT- SIFAT ALLAH TERMASUK AQIDAH Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah pengetahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah termasuk bagian dari aqidah ? Apakah kita diwajibkan untuk memperingatkan umat dari sebagian tafsir yang telah di- takwil di-tahrif dan di-ta'thil ? Jawaban.
Benar, (mengetahui) nama-nama dan sifat- sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta mengimaninya adalah salah satu dari macam- macam Tauhid. Karena Tauhid terdiri dari tiga macam, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Sifat. Tauhid Rububiyah maskudnya adalah mengesakan Allah Subhanhu wa Ta'ala dalam hal perbuatan- perbuatanNya, seperti dalam hal mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur makhluk. [1] Tauhid Uluhiyah maksudnya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal perbuatan- perbuatan hamba ketika ber-taqarrub
(mendekatkan diri) kepadaNya. Jika seorang hamba beribadah sesuai dengan apa yang diinginkan syariat, ikhlas hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta tidak menjadikan sekutu bagiNya dalam ibadah tersebut, maka inilah yang dinamakan Tauhid Uluhiyah. Sedangkan Tauhid Asma wa Sifat maksudnya adalah menetapkan nama-nama dan sifat- sifat Allah sebagaimana yang Dia tetapkan untuk diriNya atau apa yang telah ditetapkan oleh RasulNya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa melakukan tahrif [2], ta'thil [3], takyif [4] dan
tamstil [5] Kita menetapkan segala nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya dan yang telah ditetapkan oleh RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil. Adapun tentang tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil yang terdapat pada sebagian tafsir Al- Qur'an, maka penjelasan tentang hal itu (hanya ditujukan) kepada para pelajar (penuntut ilmu syar'i) karena apabila dijelaskan kepada orang-orang awam, mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dari penjelasan tersebut, tentunya hal seperti ini tidak semestinya terjadi karena hanya akan menimbulkan was-was dan menyibukkan masyarakat dengan sesuatu yang tidak mereka pahami. Sebagaimana ungkapan Ali Radhiyallahu 'anhu, â €œBerbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin mereka mendustakan Allah dan RasulNya" [6] Jadi dalam menyampaikan (suatu perkara), kepada orang awam ada caranya sendiri dan kepada penuntut ilmu syar'i ada cara sendiri. Untuk orang awam penyampaian perkara aqidah, perintah- perintah, larangan- larangan, ancaman, balasan dan pelajaran disampaikan secara mujmal (global). Diajarkan kepada mereka tentang pondasi agama seperti rukun Islam yang lima dan rukun iman. Hal-hal ini diajarkan kepada mereka dan dituntut untuk menjaganya. Sebagaimana dulu di negeri ini (negeri Haram) hingga waktu dekat ini, mereka dahulu menjaga agama mereka di masjid-masjid, menjaga rukun Islam, rukun Iman, makna dua kalimat syahadat, baik syahadat
La ilaaha illallah maupun syahadat Muhammadan Rasulullah, menjaga rukun, syarat dan hal- hal yang wajib di dalam shalat juga menjaga apa-apa yang mereka butuhkan dari perkara- perkara agama. Adapun bagi penuntut ilmu syar'i dijelaskan dan
diterangkan serta diajarkan kepada mereka ta'wil (tafsir). Akan tetapi jangan sampai mencela penulis (pengarang). Seperti mengatakan, 'Penulis seorang
mubtadi' (pelaku bid'ah), sesat (dan sebagainya)'. Akan tetapi cukup dengan mengatakan, Tafsir ini salah dan yang
benar adalah begini atau tafsir ini adalah tafsir fulan semata atau didalamnya terdapat sifat fulan. Tanpa mencela ulamanya,
membid'ahkannya atau mencela kepribadiannya. Karena hal ini tidaklah mendatangkan manfaat bagi masyarakat, bahkan akan mengakibatkan para penuntut ilmu syar'i akan menjauhi para ulama dan berburuk sangka terhadap mereka. Karena tujuan sesungguhnya hanyalah memperbaiki kesalahan, itu saja. Bukan mencela seseorang dengan perkataan 'pelaku bid'ah, bodoh dan sesat. Yang seperti ini tidaklah mendatangkan manfaat sama sekali. Bahkan akan menimbulkan pertentangan, buruk sangka kepada ulama, mengakibatkan
perseteruan pemikiran dan ikut campur di dalam membeberkan (mengorek aib) para ulama, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Ini tidaklah mendatangkan kebaikan. Menjelaskan kebenaran hendaklah kepada mereka yang mampu untuk memahaminya, seperti para pelajar penuntut ilmu syar'i. Sementara orang awam yang tidak mampu memahaminya serta tidak dapat menanggkapnya cukup dijelaskan kepada mereka perkara-perkara
yang amat mereka butuhkan, dari perkara- perkara agama, ibadah, shalat, zakat serta puasa. Yang terpenting adalah permasalahan aqidah secara sederhana agar dapat mengambil manfaat darinya. Jangan bertele-
tele sehingga memberatkan mereka dan membuat mereka jenuh, semestinya dengan cara sederhana. [Al-Muntaqa min Fataawaa Syaikh Shalih bin Fauzan III/17-19] [Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan III/17-19 Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 4/I/Dzulhijjah 1423H. Alamat Pondok Pesantren Islamic Center
Bin Baz, Piyungan - Bantul, Yogyakarta]
_________
Foote Note.
[1]. Maksudnya hanya Dialah yang melakukan perbuatan-perbuatan
tersebut tanpa yang lain.
[2]. Tahrif yaitu menyimpangkan makna atai sifat Allah dari yang sebenarnya tanpa dalil.
[3]. Ta'thil yaitu meniadakan atau menolak adanya nama- nama atau sifat-sifat Allah, sebagian atau secara keseluruhan.
[4]. Takyif adalah menentukan hakikat tertentu dari sifat-sifat Allah.
[5]. Tamtsil yaitu menyamakan atau menyerupakan nama atau sifat Allah dengan nama atau sifat makhlukNya.
[6]. Disebutkan oleh Bukhari di dalam shahihnya 1/41 dari Ali Radhiyallahu 'anhu © copyleft almanhaj.or.id seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.
Tauhid V almanhaj.or.id - Jumlah Nama Dan Sifat Allah
Kategori Tauhid Jumlah Nama Dan
Sifat Allah Sabtu, 29 Mei 2004 07:35:40 WIB JUMLAH NAMA DAN SIFAT ALLAH Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah ada ketetapan di dalam syari'at tentang pembatasan jumlah al-asma al-husna (nama-nama Allah yang baik) ? Apakah mungkin menyebutkannya ? Dan apa pula nama Allah yang teragung ? Jawaban.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Hanya milik Allah asma al-husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul husan itu". [Al-A'raf : 180] "Artinya : Dia mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang baik)" [Thaha : 8] Nama-nama Allah yang husna (baik) tidak diketahui berapa jumlahnya, kecuali hanya
Allah sajalah yang mengetahuinya. Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah
tidak terdapat pembatasan atas hal itu. Tetapi mungkin saja menentukan jumlah yang tedapat dalam Al- Qur'an dan As-Sunnah. Sebagian ulama telah menghimpun sebagian besarnya di dalam kitab. Beberapa diantaranya telah disusun, seperti Ibnul Qayyim di dalam Kitab 'Nuniyah' demikian pula Syaikh Husain bin Alu Syaikh di dalam manzhum (bait-bait)nya 'Al-Qaul al-Usna Fi Nazhmi al-Asma al- Husna' yang telah dicetak dan tersebar. Adapun nama Allah yang paling mulia adalah yang tedapat pada dua ayat berikut ini. "Artinya : Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahlukNya)..". [Al-Baqarah ; 255] "Artinya : Alif Laam Miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus mahlukNya". [Ali Imran : 1-2] Demikian pula terdapat pada ayat ketiga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala surat Thaha ayat 11. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. [Lihat Tafsir Al-Qur'an al-Azhim oleh Ibnu Katsir I/291] [Al-Muntaqa min Fataawaa Syaikh Shalih bin Fauzan III/19-20] [Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan III/19-20 Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 4/I/Dzulhijjah 1423H. Alamat Pondok Pesantren Islamic Center
Bin Baz Piyungan Bantul Yoyakarta] © copyleft almanhaj.or.id seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)