Entri Populer
-
Plakat Panjang Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: imam bonjol, periode I, plakat panjang | 0 komentar Lalu...
-
Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: periode VI, ustadz armen halim nar...
-
INILAH BUKTI KEBAIKAN PEMERINTAH SAUDI “WAHABI” UNTUK SANTRI,PESANTREN & KYAI NU INDONESIA, PALESTINA & MUSLIMIN DUNIA : Sambutan ya...
-
TUANKU HAJI MISKIN, PENABUR BENIH PEMBAHARUAN 3 Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 09 Juli, undefined Label: periode I, tuanku haji ...
-
Dua peristiwa yang menyebabkan tuanku nan renceh merubah sikapnya menajadi keras dan menebarkan "perang agama" adalah: 1. pengadu...
-
Jumat, September 30, 2011 PostHeaderIcon Banser bergabung dengan Katholik demo anti Radio Islam Jumat, September 30, 2011 | Diposkan oleh Ma...
-
Kategori Tauhid Prioritas Utama Kewajiban Memberikan Perhatian Kepada Aqidah Tidak Berarti Melalaikan Syariat Yang Lainnya Selasa, 18 Mei 20...
-
Kasus Tanah Fadak Seperti biasa, Syi’ah telah menciptakan kisah-kisah fiktif berdasarkan kekuatan imajinatif mereka yang keruh. Mereka cipt...
-
TUANKU HAJI MISKIN, PENABUR BENIH PEMBAHARUAN 1 Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 08 Juli, undefined Label: periode I, sejarah para...
-
PENGERTIAN SEJARAH Diposkan oleh Sejarah Salaf Minangkabau on 07 Juli, undefined Label: babad, hikayat, Pengertian sejarah, riwayat, tambo |...
Tampilkan postingan dengan label MANTAN KYAI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANTAN KYAI NU. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Oktober 2011
Banser bergabung dengan Katholik demo anti Radio Islam
Jumat, September 30, 2011 PostHeaderIcon Banser bergabung dengan
Katholik demo anti
Radio Islam Jumat, September 30, 2011 |
Diposkan oleh Mantankyainu Friday, 30 September 2011
PONOROGO – Sekitar 300
pengunjuk rasa turun ke jalan
memprotes siaran sebuah radio
komunitas di Ponorogo, kemarin.
Materi siaran dinilai merendahkan warga Nahdliyin
dan mendorong radikalisme,
sehingga dikhawatirkan bisa
berakibat perpecahan.
Unjuk rasa ini dilakukan
setidaknya 10 elemen masyarakat di Ponorogo yang
menamakan diri Aliansi
Masyarakat Anti Radikalisme
(AMAR). Di antaranya Banser NU,
IPNU, IPPNU, PMII, PMKRI, PITI,
Paguyuban Kesenian dan BEM sejumlah perguruan tinggi.
Protes dilakukan dengan
melakukan aksi jalan kaki (long
march) dari halaman Islamic
Center Abdulloh Ghonim
Assama’il di Jalan Sukarno- Hatta.
Lalu menyusuri Jalan
Sriwijaya,memutari alun-alun dan
kembali lagi ke depan halaman
Islamic Center. Long march
bukan hanya diikuti demonstran dengan atribut lembaga masing-
masing, tapi juga oleh para
pemain barongsai dan kesenian
gajahgajahan yang terus menari
selama long march.
Tak ayal, unjuk rasa yang mirip karnaval ini menarik setiap
warga di kawasan yang
dilintasi.Aksi ini dijaga ketat
aparat Polres Ponorogo. Mereka
juga menggelar aksi teatrikal
yang menggambarkan sikap tegas Banser terhadap orang
atau kelompok yang mencoba
merendahkan atau menghina
warga Nahdliyin. Dimulai dari
salawat dan tahlil di tengah
jalan yang diacak- acak sekelompok orang bertaring.
Cerita diakhiri dengan
pengamanan secara tegas
anggota Banser. Koordinator
aksi,Akhmad Subekhi
menyatakan,melalui aksi ini mereka mengecam materi siaran
Radio Midzaul Khoir FM yang
dinilai merendahkan para
simpatisan NU. ”Pada 6
September lalu, mereka
menyiarkan acara bedah buku karya Hasyim Asyari. Di siaran
itu, ada nara-sumber pembedah
buku yang menyatakan ajaran
NU itu bid’ah. Bahkan sampai
pada sebutan ajaran NU kafir,”
ungkap Komandan Banser NU Ponorogo ini.
Banser NU juga sudah
melayangkan surat keberatan
kepada pengurus NU hingga
tingkat pusat, MUI Ponorogo,
Bupati, dan Kapolres. Intinya mereka meminta agar siaran
radio tersebut dihentikan agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan. ”Kami sudah
peringatkan juga pihak radio,
tapi sampai saat ini belum ada reaksi,”tukasnya.
Pimpinan Harian Radio Midzaul
Khoir, Mukhlis, menyatakan aksi
protes tersebut kemungkinan
reaksi atas siaran mereka.
“Mungkin ada perbedaan penangkapan, atau mungkin ada
cara penyampaian yang kurang
pas bagi kawan-kawan. Kami
siap berdialog kok,” ungkap
Mukhlis. dili eyato
Sumber : http://www.seputar- indonesia.com/edisicetak/content/
view/431904/ TRIBUNNEWS.COM, PONOROGO -
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia
Daerah (KPID) Jatim, Fajar
Arifianto Isnugroho menyikapi
serius kasus didemonya Radio
‘Idzatul Al Khoir’ yang ada di kantor Majelis Tafsir Al Quran
(MTA) Ponorogo oleh massa
Nahdlatul Ulama (NU). Oleh
pendemo radio itu dinilai
menyiarkan program siaran yang menyakiti hati masyarakat. “Apalagi ini kasus pertama, ada
sebuah radio digeruduk oleh
massa ormas,” tegasnya
kepada Surya (Grup
Tribunnews.com), Kamis
(29/9/2011) sore. Untuk memastikan isi dan materi
siaran radio MTA, pihaknya,
kata Fajar, akan meminta tim
monitoring yang ada di Madiun
untuk turun ke Ponorogo.
Jika hasilnya nanti didapati, bahwa memang benar ada radio
sebagai sebuah lembaga
penyiaran menyebarkan siaran
yang meresahkan masyarakat,
KPID akan mengambil tindakan
dan sanksi tegas. Bentuknya, bisa sanksi administratif,
teguran, penghentian
sementara, pengurangan jam
siar, hingga pemberian
rekomendasi agar izinnya
dicabut atau tidak memperpanjang izinnya. Massa NU Desak Radio Penyebar
Radikalisme Ditutup TRIBUNNEWS.COM, PONOROGO -
Sekitar seribu warga NU atau
Nadhliyin di Kabupaten Ponorogo
yang tergabung dalam Aliansi
Masyarakat Antiradikalisme
(AMAR), Kamis (29/9/2011) kemarin melakukan demonstrasi
di pusat kota.
Massa menentang ajaran radikalisme Islam yang mereka sebut-sebut mulai muncul di
wilayah tersebut. Koordinator
aksi, Ahmad Subekhi yang juga
komandan Banser Ponorogo
mengatakan, pada 6 September
lalu, radio Idzatul Al Khoir menyiarkan sebuah acara yang
dianggap telah menyudutkan
kaum Nahdliyin.
Disebutkan dalam acara itu,
bahwa amaliyah Ahlussunnah Wal
Jamaah merupakan peninggalan agama tertentu di masa lampau.
Ada lima orang saksi yang
mendengar siaran tersebut.
“Dalam siaran radio itu, mereka
mengafirkan sesama muslimin. Ini
sangat menyakitkan. Jangan sekali-kali menyebut dirinya
adalah yang paling benar,”
katanya.
Karena itu, ia mendesak pihak-
pihak terkait, segera menutup
segala aktivitas radio tersebut. “Jika usai aksi ini, radio tidak
segera ditutup, kami akan demo
menurunkan massa yang lebih
banyak,” ujarnya bernada
mengancam.
Protes massal yang dilakukan sejumlah ormas NU, mulai dari
Gerakan Pemuda Ansor, Banser,
PMII, IPNU, serta IPPNU kemarin
merupakan respons terbuka
yang mereka lakukan secara
masif atas aktivitas Radio ‘Idzatul Al Khoir’ yang ada di
kantor Majelis Tafsir Al Quran
(MTA). Mereka menilai radio itu
menyebarkan ajaran berbau
pertentangan SARA (Suku,
Agama, Ras dan Antargolongan). Suasana aksi sempat sedikit
memanas saat massa yang
berjumlah ribuan itu berhenti di
depan kantor radio di Jalan
Soekarno-Hatta, Ponorogo.
Beruntung polisi segera membentuk pagar betis dan
melarang pengelola maupun
karyawan radio untuk keluar
kantor, sehingga aksi kekerasan
bisa dihindarkan.
Sementara itu, pengurus harian Radio Izzatul Al Khoir, Muhklis,
membantah keras pihaknya
menyebarkan ajaran sesat
dalam siaran radio mereka.
“Kami hanya berpedoman pada
ajaran Islam yang sesungguhnya,” bantahnya.
Kemarin, ia sempat mencoba
keluar dari dalam kantor radio
untuk menemui massa yang
berunjuk rasa. Namun, niat dia
dilarang oleh aparat kepolisian dengan alasan menghindari
terjadinya kesalahpahaman yang
bisa berujung pada tindak
kekerasan.
Muklis yang juga pengelola
Islamic Center Abdulloh Ghohim Assam’il mengatakan, ia
sejatinya siap berdialog secara
damai jika banyak orang
resisten dengan isi radio
tersebut. Namun, ia meminta
agar difasilitasi pihak berwenang.
Muklis berharap, perbedaan
pemahaman mengenai ajaran
Islam maupun materi siaran
radio yang dipersoalkan warga
tidak terus berlarut-larut, apalagi menyebabkan terjadinya
konflik sosial. Kalaupun
keberadaan radio komunitas
berlatar belakang Islam tersebut
dipersoalkan, ia mengisyaratkan
akan berkompromi demi meminimalisasi potensi maupun
risiko terjadinya
kesalahpahaman dengan warga
Nahdliyin.
Ketua PWNU Jatim, Mutawakkil
Alallah meminta agar persoalan bid’ah menjadi perhatian semua
pihak. Apalagi, masalah ini kerap
mengundang perselisihan.
“Adalah tugas pemerintah,
kementrian agama, MUI, dan
organisasi keislaman kita memberi pencerahan kepada
masyarakat,” kata Mutawakkil.
Permasalahan yang timbul akibat
bid’ah semata-mata karena
kurangnya komunikasi antara
masyarakat yang memahaminya dengan tokoh. “Kalau perkara
bid’ah itu dikomunikasikan
dengan baik dengan semua
pihak, masalah tidak akan
timbul,” tandasnya.
Kendati demikian, masyarakat sendiri harus mau memahami
dan bisa menghargai perbedaan.
Sebab, bid’ah memang diakui
selalu menimbulkan pro dan
kontra. “Aparat keamanan dan
penegak hukum harus bisa mencegah agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan,”
kata Mutawakkil. Komentarku ( Mahrus ali ) :
Perhimpunan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia disingkat
(PMKRI) merupakan Organisasi
Kepemudaan (OKP) Katolik yang
berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan organisasi
perjuangan mahasiswa katolik
(juga bukan katolik) yang
berazaskan Pancasila, dijiwai kekatolikan, dan disemangati
kemahasiswaan.
PITI ( Persatuan Islam tionghoa
Indonesia ) .
Bila apa yang diberitakan oleh : www.seputar-indonesia.com/
edisicetak/content/view/431904/ itu benar , maka Banser saat
itu bergabung dengan katholik
bukan dengan ormas muslim
untuk melakukan demo anti
radio Islam bukan radio kafir ,
kristen dll . Bukan TV yang selalu menyebarkan berbagai
kemungkaran . Mereka malah
senang sesuatu di TV yang
dibenci oleh Allah dan di senangi
setan - setan manusia .
Dengan Katholik , teman kekasih , dengan radio muslim
muslim musuh . Ini aneh sekali .
Marilah kita renungi ayat ini : ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ َﻻ ﺍﻭُﺬِﺨَّﺘَﺗ ًﺔَﻧﺎَﻄِﺑ ْﻦِﻣ ْﻢُﻜِﻧﻭُﺩ َﻻ ْﻢُﻜَﻧﻮُﻟْﺄَﻳ ًﻻﺎَﺒَﺧ ﺍﻭُّﺩَﻭ ﺎَﻣ ْﻢُّﺘِﻨَﻋ ْﺪَﻗ ْﻢِﻬِﻫﺍَﻮْﻓَﺃ ْﻦِﻣ ُﺀﺎَﻀْﻐَﺒْﻟﺍ ِﺕَﺪَﺑ ﺎَﻣَﻭ ﻲِﻔْﺨُﺗ ْﻢُﻫُﺭﻭُﺪُﺻ ُﺮَﺒْﻛَﺃ ْﺪَﻗ ﺎَّﻨَّﻴَﺑ ُﻢُﻜَﻟ ﺍ ْ ِﺕﺎَﻳﻵ ْﻥِﺇ ْﻢُﺘْﻨُﻛ َﻥﻮُﻠِﻘْﻌَﺗ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang- orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti- hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.
Dalam artikel itu di katakan :
Oleh pendemo radio itu dinilai
menyiarkan program siaran yang menyakiti hati masyarakat. Komentarku ( Mahrus ali ) :
Unik sekali , suatu nasehat
baik , bukan wawancara Tukul
Arwana di anggap menyakiti,
tidak di jadikan obat hati .Kalau
wawancara Tukul , malah di lihat , tidak di demo . Mestinya
anda benci terhadap
kemungkaran yang terdapat
dalam acara itu .
Dan Lihat dulu jangan terus
bertindak , apakah ada dalilnya dari ayat atau hadis . Bila
berdalil , lalu kamu sakit hati ,
ber arti imanmu yang perlu di
perbaiki , jangan tambah di
rusak . Saya ingat ayat ini : ﺎَﻨُﺗﺎَﻳﺍَﺀ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻠْﺘُﺗ ﺍَﺫِﺇَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ِﻩﻮُﺟُﻭ ﻲِﻓ ُﻑِﺮْﻌَﺗ ٍﺕﺎَﻨِّﻴَﺑ َﻥﻭُﺩﺎَﻜَﻳ َﺮَﻜْﻨُﻤْﻟﺍ ﺍﻭُﺮَﻔَﻛ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ َﻥﻮُﻠْﺘَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺎِﺑ َﻥﻮُﻄْﺴَﻳ ْﻦِﻣ ٍّﺮَﺸِﺑ ْﻢُﻜُﺌِّﺒَﻧُﺄَﻓَﺃ ْﻞُﻗ ﺎَﻨِﺗﺎَﻳﺍَﺀ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻫَﺪَﻋَﻭ ُﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﻢُﻜِﻟَﺫ ُﺮﻴِﺼَﻤْﻟﺍ َﺲْﺌِﺑَﻭ ﺍﻭُﺮَﻔَﻛ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ Dan apabila dibacakan di
hadapan mereka ayat-ayat
Kami yang terang, niscaya kamu
melihat tanda-tanda keingkaran
pada muka orang-orang yang
kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang
membacakan ayat-ayat Kami di
hadapan mereka. Katakanlah:
"Apakah akan aku kabarkan
kepadamu yang lebih buruk
daripada itu, yaitu neraka?". Allah telah mengancamkannya
kepada orang-orang yang kafir.
Dan neraka itu adalah seburuk-
buruknya tempat kembali.[1] Orang kafir bila mendengar musik senang hatinya –tidak
benci. Tapi bila mendengar
ajaran agama yang murni sakit
hati , pikirannya kacau dan
hampir saja menampar orang
yang memberikan nasehat baik . Semoga anda tidak termasuk
ini .
Dalam artikel itu di katakan :
Jika hasilnya nanti didapati,
bahwa memang benar ada radio
sebagai sebuah lembaga penyiaran menyebarkan siaran
yang meresahkan masyarakat,
KPID akan mengambil tindakan
dan sanksi tegas. Bentuknya,
bisa sanksi administratif,
teguran, penghentian sementara, pengurangan jam
siar, hingga pemberian
rekomendasi agar izinnya
dicabut atau tidak
memperpanjang izinnya.
Komentarku ( Mahrus ali ) : Pada era Gus dur jadi
presiden , departemen
penerangan di bubarkan , lalu
informasi media massa di beri
kebebasan yang luas sekali .
Aneh sekali bila Banser bertentangan dengan nasehat
Gus dur itu .
Radio dakwah di demo , radio
hiburan di gemari . Ini
kesesatan di dunia dan akan
berbahaya di akhirat . Dlm artikel itu di terangkan :
Massa menentang ajaran radikalisme Islam yang mereka sebut-sebut mulai muncul di
wilayah tersebut.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Massa menentang ajaran radikalisme Islam bukan radikalisme kristen dan
katholik . Kalau kamu
mendengar radio katholik atau
kristen tambah keji dalam
menyerang Islam , lalu kamu
biarkan , kamu senang , malah orang Katholik kamu ajak
bergabung untuk menentang
Radio Islam . Ini unik sekali .
Dalam artikel itu di katakan :
Ada lima orang saksi yang
mendengar siaran tersebut. “Dalam siaran radio itu, mereka
mengafirkan sesama muslimin. Ini
sangat menyakitkan. Jangan
sekali-kali menyebut dirinya
adalah yang paling benar,”
katanya. Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila mereka mengkafirkan
dengan dalil, maka terimalah
dengan baik , jangan di tolak ,
sama dengan buang ayat lalu
mengambil ajaran setan dan Thaghut. Ingatlah ayat : ْﻦَﻣَﻭ ُﻢَﻠْﻇَﺃ ْﻦَّﻤِﻣ َﺮِّﻛُﺫ ِﺕﺎَﻳﺂِﺑ ِﻪِّﺑَﺭ َّﻢُﺛ َﺽَﺮْﻋَﺃ ﺎَﻬْﻨَﻋ ﺎَّﻧِﺇ َﻦِﻣ َﻥﻮُﻤِﻘَﺘْﻨُﻣ َﻦﻴِﻣِﺮْﺠُﻤْﻟﺍ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang
yang berdosa.[2] Allah menyatakan takmir tersebut mujrim – pelaku maksiat paling zalim. Rasulullah SAW bersabda : ﺎَﻟ ُﻞُﺧْﺪَﻳ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ْﻦَﻣ َﻥﺎَﻛ ﻲِﻓ ِﻪِﺒْﻠَﻗ ُﻝﺎَﻘْﺜِﻣ ٍﺓَّﺭَﺫ ْﻦِﻣ ٍﺮْﺒِﻛ َﻝﺎَﻗ ٌﻞُﺟَﺭ َّﻥِﺇ َﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ُّﺐِﺤُﻳ ْﻥَﺃ َﻥﻮُﻜَﻳ ُﻪُﺑْﻮَﺛ ﺎًﻨَﺴَﺣ ُﻪُﻠْﻌَﻧَﻭ ًﺔَﻨَﺴَﺣ َﻝﺎَﻗ َّﻥِﺇ َﻪَّﻠﻟﺍ ٌﻞﻴِﻤَﺟ ُّﺐِﺤُﻳ َﻝﺎَﻤَﺠْﻟﺍ ُﺮْﺒِﻜْﻟﺍ ُﺮَﻄَﺑ ِّﻖَﺤْﻟﺍ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﻂْﻤَﻏَﻭ * Tidak akan masuk ke surga orang yang dlm hatinya terdapat seberat dzarrah sifat sombong . seorang lelaki berkata :” Sesungguhnya seorang lelaki senang mengenakan paakaian dan sandal yang baik . Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya Allah indah dan senang keindahan . Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang . [3] Rasul menyatakan takmir tersebut congkak dan tidak akan masuk surga .
Saya disini hanya menjalankan tugas saling memberi wasiat kebenaran dan kesabaran : ﺎَّﻟِﺇ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﺍﻮُﻠِﻤَﻋَﻭ ِﺕﺎَﺤِﻟﺎَّﺼﻟﺍ ﺍْﻮَﺻﺍَﻮَﺗَﻭ ِّﻖَﺤْﻟﺎِﺑ ِﺮْﺒَّﺼﻟﺎِﺑ ﺍْﻮَﺻﺍَﻮَﺗَﻭ Lihat nasehat KH Mutawakkil –
Ketua PWNU Jatim sbb :
Kendati demikian, masyarakat
sendiri harus mau memahami
dan bisa menghargai perbedaan.
Sebab, bid’ah memang diakui selalu menimbulkan pro dan
kontra. “Aparat keamanan dan
penegak hukum harus bisa
mencegah agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan,”
kata Mutawakkil. [1] Al Haj 72 [2] As sajdah 22 [3] Muslim 91 Artikel Terkait Kristen Pasca Bom Solo: Pengamat Anti
Islam dan Pengusung Bid’ah
Bersuara Senada Banser bergabung dengan
Katholik demo anti Radio Islam Bom Greja Solo , tujuannya
membubarkan pengajian ahli
hadis Kisah menarik kekeluargaan
mantan kristen Itali yg masuk
Islam Program KB dan Kristenisasi
Mengurangi Jumlah Ummat Islam Bersiaplah, Umat Muslim Akan
Dihabisi Pelan-pelan oleh Brigade
Yesus Label: Kristen
Rabu, 12 Oktober 2011
Said Aqil Pemimpin muslim sejati atau munafik ?
Di tulis oleh H Mahrus ali
20 April 2011 | 13:30 wib
Said Aqil: Waspadai Lembaga
Pendidikan Pemakai Dana Timur
Tengah Jakarta, CyberNews. Ketua
Umum PBNU KH Said Aqil Siradj
meminta masyarakat dan
pemerintah Indonesia
mewaspadai lembaga-lembaga
pendidikan di Indonesia yang didanai negara-negara Timur
Tengah. Mengapa?
Lembaga-lembaga pendidikan
yang memiliki hubungan dengan
Timur Tengah kerap kali menjadi
tempat bagi penyuburan ajaran agama radikal dan terorisme.
"Kita harus waspada lembaga-
lembaga pendidikan yang dapat
dana dari Arab. Karena itu
menciptakan ajaran radikal,
berani satu digit saja jadi teroris," ujar Said dalam acara
diskusi di Gedung PBNU, Jakarta,
Selasa (19/4)
Menanggapi terjadinya bom
bunuh diri di Mapolresta Cirebon
kemarin Said yang juga orang Cirebon mengatakan, kemapanan
ajaran Islam yang toleran di
Cirebon diobrak-abrik oleh anak
bau kencur. "Cirebon sudah
mapan, diobrak- abrik oleh anak
kemarin sore yang membangun ideologi radikal. Anak baru udah
menginjak-injak tradisi yang
sudah mapan," tukasnya.[1] Komentarku ( Mahrus ali ) : Anda terlalu diskriminatif ,
mengapa anda menyatakan :
Lembaga-lembaga pendidikan
yang memiliki hubungan dengan
Timur Tengah kerap kali menjadi
tempat bagi penyuburan ajaran agama radikal dan terorisme.
"Kita harus waspada lembaga-
lembaga pendidikan yang dapat
dana dari Arab. Karena itu
menciptakan ajaran radikal,
berani satu digit saja jadi teroris," ujar Said dalam acara
diskusi di Gedung PBNU, Jakarta,
Selasa (19/4)
Lembaga mana yang mendapat
dana dari arab lalu menjadi
sarang terorisme ? Jangan nuduh saja lalu anda tidak
menemukan buktinya ? Lalu
bagaimanakah dengan lembaga
dan ormas yang mendapat dana
dari Yahudi , apakah tidak di
awasi ? Pada hal tujuan Yahudi memberikan dana jelas untuk
mengkafirkan kaum muslimin .
Allah berfirman : ﺎَﻟَﻭ ُﺩﻮُﻬَﻴْﻟﺍ َﻚْﻨَﻋ ﻰَﺿْﺮَﺗ ْﻦَﻟَﻭ ْﻞُﻗ ْﻢُﻬَﺘَّﻠِﻣ َﻊِﺒَّﺘَﺗ ﻰَّﺘَﺣ ﻯَﺭﺎَﺼَّﻨﻟﺍ ﻯَﺪُﻬْﻟﺍ َﻮُﻫ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻯَﺪُﻫ َّﻥِﺇ َﺪْﻌَﺑ ْﻢُﻫَﺀﺍَﻮْﻫَﺃ َﺖْﻌَﺒَّﺗﺍ ِﻦِﺌَﻟَﻭ َﻚَﻟ ﺎَﻣ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻦِﻣ َﻙَﺀﺎَﺟ ﻱِﺬَّﻟﺍ ٍﺮﻴِﺼَﻧ ﺎَﻟَﻭ ٍّﻲِﻟَﻭ ْﻦِﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻦِﻣ Orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak akan senang kepada kamu
hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah:
"Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka
setelah pengetahuan datang
kepadamu, maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong
bagimu.[2] Anda menjadi pembela kaum
muslimin atau Yahudi ? Kami
berharap bersikaplah yang
adil . [1] http://suaramerdeka.com/v1/ index.php/read/
news/2011/04/20/83444/Said-
Aqil-Waspadai-Lembaga-
Pendidikan-Pemakai-Dana-Timur-
Tengah [2] Ali imran 120 Artikel Terkait Said Aqil Label: Said Aqil
20 April 2011 | 13:30 wib
Said Aqil: Waspadai Lembaga
Pendidikan Pemakai Dana Timur
Tengah Jakarta, CyberNews. Ketua
Umum PBNU KH Said Aqil Siradj
meminta masyarakat dan
pemerintah Indonesia
mewaspadai lembaga-lembaga
pendidikan di Indonesia yang didanai negara-negara Timur
Tengah. Mengapa?
Lembaga-lembaga pendidikan
yang memiliki hubungan dengan
Timur Tengah kerap kali menjadi
tempat bagi penyuburan ajaran agama radikal dan terorisme.
"Kita harus waspada lembaga-
lembaga pendidikan yang dapat
dana dari Arab. Karena itu
menciptakan ajaran radikal,
berani satu digit saja jadi teroris," ujar Said dalam acara
diskusi di Gedung PBNU, Jakarta,
Selasa (19/4)
Menanggapi terjadinya bom
bunuh diri di Mapolresta Cirebon
kemarin Said yang juga orang Cirebon mengatakan, kemapanan
ajaran Islam yang toleran di
Cirebon diobrak-abrik oleh anak
bau kencur. "Cirebon sudah
mapan, diobrak- abrik oleh anak
kemarin sore yang membangun ideologi radikal. Anak baru udah
menginjak-injak tradisi yang
sudah mapan," tukasnya.[1] Komentarku ( Mahrus ali ) : Anda terlalu diskriminatif ,
mengapa anda menyatakan :
Lembaga-lembaga pendidikan
yang memiliki hubungan dengan
Timur Tengah kerap kali menjadi
tempat bagi penyuburan ajaran agama radikal dan terorisme.
"Kita harus waspada lembaga-
lembaga pendidikan yang dapat
dana dari Arab. Karena itu
menciptakan ajaran radikal,
berani satu digit saja jadi teroris," ujar Said dalam acara
diskusi di Gedung PBNU, Jakarta,
Selasa (19/4)
Lembaga mana yang mendapat
dana dari arab lalu menjadi
sarang terorisme ? Jangan nuduh saja lalu anda tidak
menemukan buktinya ? Lalu
bagaimanakah dengan lembaga
dan ormas yang mendapat dana
dari Yahudi , apakah tidak di
awasi ? Pada hal tujuan Yahudi memberikan dana jelas untuk
mengkafirkan kaum muslimin .
Allah berfirman : ﺎَﻟَﻭ ُﺩﻮُﻬَﻴْﻟﺍ َﻚْﻨَﻋ ﻰَﺿْﺮَﺗ ْﻦَﻟَﻭ ْﻞُﻗ ْﻢُﻬَﺘَّﻠِﻣ َﻊِﺒَّﺘَﺗ ﻰَّﺘَﺣ ﻯَﺭﺎَﺼَّﻨﻟﺍ ﻯَﺪُﻬْﻟﺍ َﻮُﻫ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻯَﺪُﻫ َّﻥِﺇ َﺪْﻌَﺑ ْﻢُﻫَﺀﺍَﻮْﻫَﺃ َﺖْﻌَﺒَّﺗﺍ ِﻦِﺌَﻟَﻭ َﻚَﻟ ﺎَﻣ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻦِﻣ َﻙَﺀﺎَﺟ ﻱِﺬَّﻟﺍ ٍﺮﻴِﺼَﻧ ﺎَﻟَﻭ ٍّﻲِﻟَﻭ ْﻦِﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻦِﻣ Orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak akan senang kepada kamu
hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah:
"Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka
setelah pengetahuan datang
kepadamu, maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong
bagimu.[2] Anda menjadi pembela kaum
muslimin atau Yahudi ? Kami
berharap bersikaplah yang
adil . [1] http://suaramerdeka.com/v1/ index.php/read/
news/2011/04/20/83444/Said-
Aqil-Waspadai-Lembaga-
Pendidikan-Pemakai-Dana-Timur-
Tengah [2] Ali imran 120 Artikel Terkait Said Aqil Label: Said Aqil
Selasa, 11 Oktober 2011
Ajaran salafy racun , kata KH. SaidAqil Siradj
Oleh: Artawijaya
Wartawan dan Penulis Buku
Pasca serangan bom bunuh diri
di GBIS Kepunton Solo,
perbincangan mengenai kaitan
antara terorisme dan doktrin Wahabi kembali mencuat di
media massa. Setidaknya hal itu
tercermin dalam sebuah artikel
yang ditulis oleh Ketua Umum
PBNU, KH. Said Aqil Siradj pada
harian Republika (3/10/2011). Artikel berjudul "Radikalisme,
Hukum, dan Dakwah" ini menarik
untuk dicermati, karena KH Said
Aqil telah mengaitkan antara
pergerakan dakwah Wahabi
dengan radikalisme. Beliau bahkan membuat istilah baru
tentang dakwah Wahabi, yaitu
"ideologi puritanisme radikal."
Kita tentu bersyukur, seorang
ketua umum sebuah organisasi
massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap
teror bom yang banyak
menimbulkan korban dari
masyarakat yang tak bersalah.
Bahkan sebenarnya bukan
hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan
dengan kasus terorisme seperti
KH. Abu Bakar Ba'asyir (ABB)
pun mengecam aksi bom di
Cirebon dan Solo sebagai
tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada
beberapa kesempatan, ABB
menyatakan bahwa Indonesia
adalah wilayah aman yang
karenanya Islam harus
ditegakkan lewat cara-cara damai.
Ada beberapa hal yang perlu
dikritisi dari artikel Kiai Said di
atas, yang terkesan seperti
menabur angin, mengenai siapa
saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa
alineanya, artikel tersebut
bahkan seperti mengumbar
stigma yang gebyah uyah. Jika
tak dikritisi, tulisan tersebut
bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan
generalisasi terhadap kelompok
yang dituduh mengusung
dakwah Wahabi. Sehingga hal ini
bisa berpotensi memicu konflik
sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada
sebuah pengajian hadits di
Klaten, Jawa Tengah, yang
nyaris dipaksa bubar karena
dianggap bagian dari dakwah
Wahabi. Diantara kalimat yang bisa
menimbulkan bias pemahaman
dan stigma dari tulisan KH Said
Aqil adalah, "Kita bisa
mencermati pergerakan paham
Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah
memasuki wilayah pendidikan
dengan menyuntikkan ideologi
puritanisme radikal, semisal
penyesatan terhadap kelompok
lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di
berbagai daerah bahkan sudah
terjadi 'tawuran' akibat model
dakwah Wahabi yang tak
menghargai perbedaan
pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa
berpotensi menjadi 'cikal bakal'
radikalisme."
Pada alinea lain, KH Said Aqil
mengusulkan agar dilakukan
"sterilisasi" masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang
kelompok puritan radikal,
sebuah kelompok yang
menurutnya seringkali
menimbulkan "tawuran" di
tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil
bahkan meminta masyarakat
untuk mewaspadai 12 yayasan
dari Timur Tengah yang
ditengarai mendapat suntikan
dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang
dimuat dalam harian ini seolah
menyatakan bahwa memerangi
ideologi teror sama dengan
memerangi ideologi puritan
radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai
Wahabi. Kelompok yang saat ini
menurutnya mengendap-endap
di dunia pendidikan, membawa
suntikan beracun berisi "ideologi
puritan radikal". Antara Wahabi dan Terorisme
Stigma Wahabi merujuk pada
sosok ulama abad ke-18
bernama Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab At-Tamimy An-
Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah
(pembaharuan dan pemurnian)
akidah kaum muslimin dari
beragam kemusyrikan dan
amaliah yang tidak diajarkan
oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai
yang tak pernah menyebut
kiprah dakwahnya dengan
penamaan dakwah Wahabi atau
tak pernah mendirikan
organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru
muncul belakangan, itupun
dengan tujuan stigmatisasi oleh
mereka yang tak setuju dengan
pemikiran yang diusung dalam
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Di Indonesia, stigma Wahabi juga
pernah dilekatkan pada ormas-
ormas Islam seperti
Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan
Persatuan Islam (Persis). Tokoh- tokoh seperti KH Ahmad Dahlan,
Syaikh Ahmad Soorkati, A.
Hassan, dianggap sebagai
pengusung paham Wahabi di
Indonesia. Bahkan, jauh sebelum
itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut
sebagai pengusung dakwah
Wahabi. Baik Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab ataupun
generasi dakwah selanjutnya di
seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak
pernah ada yang dengan tegas
menyatakan dirinya sebagai
Wahabi.
KH. Said Aqil Siradj dalam
tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja
yang masuk dalam kategori
puritan radikal pengusung
dakwah Wahabi. Ia hanya
menjelaskan, kelompok tersebut
tak menghargai perbedaan dan mudah memberikan label sesat
pada sesama Muslim lainnya.
Sama tak jelasnya, ketika ia
melontarkan pernyataan bahwa
ada 12 yayasan milik Wahabi
yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja
yayasan itu, kenapa perlu
diwaspadai, adakah pelanggaran
baik dari sisi hukum nasional
ataupun hukum Islam dari 12
yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak
pernah dijabarkan. Sekali lagi,
apa yang dilontarkan KH Said
Aqil seperti menabur angin,
menerpa siapa saja yang
dianggap sebagai Wahabi. Jika merujuk pada banyak kasus
yang terjadi di basis-basis NU,
maka kelompok puritan radikal
atau Wahabi yang dimaksud KH
Said Aqil adalah mereka yang
membid'ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan
amaliah lainnya yang menjadi
tradisi di kalangan Nahdhiyyin.
Kriteria inilah yang sering
diungkapkan oleh KH Said Aqil di
media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut
sebagai "Wahabi". Namun, adakah
kaitannya antara kelompok
yang berdakwah untuk menjauhi
bid'ah dalam urusan ibadah
dengan kelompok teroris? Nyatanya seluruh ormas Islam di
Indonesia, baik yang meyakini
bolehnya tahlilan atau tidak,
sepakat bahwa aksi
pengeboman di zona damai
adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi
pemboman yang terjadi di
tempat ibadah. Bom yang
dilakukan oleh kelompok yang
mengatasnamakan jihad tentu
mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad
dengan batasan dan aturan
yang ketat dan rinci. Jihad tidak
mengedepankan hawa nafsu dan
serampangan. Jihad sangat
menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di
dalamnya hak-hak sipil. Dalam
perang, musuh yang menjadi
target adalah para combatan
dan basis-basis militer, bukan
orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.
Akhirul kalam, menyebut dakwah
Wahabi sebagai kontributor aksi
teror bom tak pernah bisa
dibuktikan dengan jelas.
Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-
bayang. Kita tentu tak sepakat
dengan sekelompok orang yang
mudah mengkafirkan muslim
lainnya hanya karena urusan
khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang
eksklusif, merasa paling benar,
dan jauh dari nilai-nilai akhlakul
karimah. Jika ada perbedaan
dalam urusan dakwah, maka
selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan
pendapat dalam hal furu'iyah
maka kedepankanlah sikap
tasamuh (toleran). Stigmatisasi
yang tak jelas di tengah
prahara terorisme akan menambah beban masalah yang
melebar ke mana-mana. Selain
persoalan ideologi yang
menyimpang, akar dari
terorisme adalah ketidakadilan
global yang melanda negeri- negeri Muslim. (Dimuat di Harian
Republika, 7 Oktober, 2011)
Sumber : Eramuslim. com
Komentarku ( Mahrus ali ) : . Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang
dimuat dalam harian ini seolah
menyatakan bahwa memerangi
ideologi teror sama dengan
memerangi ideologi puritan
radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai
Wahabi. Kelompok yang saat ini
menurutnya mengendap-endap
di dunia pendidikan, membawa
suntikan beracun berisi "ideologi
puritan radikal". Komentarku ( Mahrus ali ) :
Inna lillah wainna ilaihi rajiun ,
orang gila tak seperti itu bila
berkata atau menulis ,Masak
ajaran Islam yang murni di
anggap beracun lalu ajaran ahli bid`ah di anggap obat yang
manjur . Ini pemikiran yang perlu
di kencangkan , bukan tambah
di buat silang . Kita harus
berpegangan kepada ayat : ْﻉَﺪْﺻﺎَﻓ ﺎَﻤِﺑ ُﺮَﻣْﺆُﺗ ْﺽِﺮْﻋَﺃَﻭ ِﻦَﻋ َﻦﻴِﻛِﺮْﺸُﻤْﻟﺍ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( Al Hijr 94 ) Begitu juga ayat : ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕﺎَﻟﺎَﺳِﺭ َﻥﻮُﻐِّﻠَﺒُﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍًﺪَﺣَﺃ َﻥْﻮَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟَﻭ ُﻪَﻧْﻮَﺸْﺨَﻳَﻭ ﺎًﺒﻴِﺴَﺣ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ﻰَﻔَﻛَﻭ َﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ (yaitu) orang-orang yang
menyampaikan risalah-risalah
Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut
kepada seorang (pun) selain
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.[1] Di dalam artikel itu di katakan
lagi :
Di Indonesia, stigma Wahabi juga
pernah dilekatkan pada ormas-
ormas Islam seperti
Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis). Tokoh-
tokoh seperti KH Ahmad Dahlan,
Syaikh Ahmad Soorkati, A.
Hassan, dianggap sebagai
pengusung paham Wahabi di
Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku
Imam Bonjol pun pernah disebut
sebagai pengusung dakwah
Wahabi. Baik Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab ataupun
generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham
dengan pemikirannya tak
pernah ada yang dengan tegas
menyatakan dirinya sebagai
Wahabi.
Komentarku ( Mahrus ali ) : Apakah ajaran Muhammadiyah,
Al-Irsyad, dan Persatuan Islam
(Persis).di anggap wahabi , lalu
perlu di waspadai dan ajaran
kristen , Budha , Ahli bid`ah di
junjung dan perlu di kembangkan ? .
Ingatlah firman Allah sbb : َﻥﻭُﺪﻳِﺮُﻳ ﺍﻮُﺌِﻔْﻄُﻴِﻟ َﺭﻮُﻧ ِﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢِﻬِﻫﺍَﻮْﻓَﺄِﺑ ُﻪﻠﻟﺍَﻭ ُّﻢِﺘُﻣ ِﻩِﺭﻮُﻧ َﻥﻭُﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ْﻮَﻟَﻭ ) 8) Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Sekali lagi, apa yang dilontarkan
KH Said Aqil seperti menabur
angin, menerpa siapa saja yang
dianggap sebagai Wahabi.
Dalam artikel itu di katakan: Kita tentu tak sepakat dengan
sekelompok orang yang mudah
mengkafirkan muslim lainnya
hanya karena urusan khilafiyah
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kita kafirkan orang yang menurut dalil kafir , dan kita
katakan muslim orang yang
menurut dalil muslim . Ingatlah
ayat allah . ﺎَﻤَّﻧِﺇ َﻝْﻮَﻗ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫِﺇ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﺍﻮُﻋُﺩ ﻰَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻢُﻜْﺤَﻴِﻟ ﺎَﻨْﻌِﻤَﺳ ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﻳ ْﻥَﺃ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑ ﺎَﻨْﻌَﻃَﺃَﻭ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃَﻭ ُﻢُﻫ َﻥﻮُﺤِﻠْﻔُﻤْﻟﺍ Sesungguhnya jawaban orang- orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara
mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.[2] Baca lagi di sini :
Said Aqil Siradj MANTAN KYAI NU: Tutup situs jihad , biarkan situs
porno 02 Okt 2011 MANTAN KYAI NU: KHSaid Aqil Siroj kurang luas wawasan 01 Jun 2011
01 Jun 2011 MANTAN KYAI NU:Said Aqil Pemimpin muslim sejati atau
munafik ? 21 Apr 2011 [1] ( Al ahzab 39 ) [2] An nur 51 Artikel Terkait KH Said Aqil Siroj Label: KH Said Aqil Siroj
Wartawan dan Penulis Buku
Pasca serangan bom bunuh diri
di GBIS Kepunton Solo,
perbincangan mengenai kaitan
antara terorisme dan doktrin Wahabi kembali mencuat di
media massa. Setidaknya hal itu
tercermin dalam sebuah artikel
yang ditulis oleh Ketua Umum
PBNU, KH. Said Aqil Siradj pada
harian Republika (3/10/2011). Artikel berjudul "Radikalisme,
Hukum, dan Dakwah" ini menarik
untuk dicermati, karena KH Said
Aqil telah mengaitkan antara
pergerakan dakwah Wahabi
dengan radikalisme. Beliau bahkan membuat istilah baru
tentang dakwah Wahabi, yaitu
"ideologi puritanisme radikal."
Kita tentu bersyukur, seorang
ketua umum sebuah organisasi
massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap
teror bom yang banyak
menimbulkan korban dari
masyarakat yang tak bersalah.
Bahkan sebenarnya bukan
hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan
dengan kasus terorisme seperti
KH. Abu Bakar Ba'asyir (ABB)
pun mengecam aksi bom di
Cirebon dan Solo sebagai
tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada
beberapa kesempatan, ABB
menyatakan bahwa Indonesia
adalah wilayah aman yang
karenanya Islam harus
ditegakkan lewat cara-cara damai.
Ada beberapa hal yang perlu
dikritisi dari artikel Kiai Said di
atas, yang terkesan seperti
menabur angin, mengenai siapa
saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa
alineanya, artikel tersebut
bahkan seperti mengumbar
stigma yang gebyah uyah. Jika
tak dikritisi, tulisan tersebut
bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan
generalisasi terhadap kelompok
yang dituduh mengusung
dakwah Wahabi. Sehingga hal ini
bisa berpotensi memicu konflik
sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada
sebuah pengajian hadits di
Klaten, Jawa Tengah, yang
nyaris dipaksa bubar karena
dianggap bagian dari dakwah
Wahabi. Diantara kalimat yang bisa
menimbulkan bias pemahaman
dan stigma dari tulisan KH Said
Aqil adalah, "Kita bisa
mencermati pergerakan paham
Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah
memasuki wilayah pendidikan
dengan menyuntikkan ideologi
puritanisme radikal, semisal
penyesatan terhadap kelompok
lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di
berbagai daerah bahkan sudah
terjadi 'tawuran' akibat model
dakwah Wahabi yang tak
menghargai perbedaan
pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa
berpotensi menjadi 'cikal bakal'
radikalisme."
Pada alinea lain, KH Said Aqil
mengusulkan agar dilakukan
"sterilisasi" masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang
kelompok puritan radikal,
sebuah kelompok yang
menurutnya seringkali
menimbulkan "tawuran" di
tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil
bahkan meminta masyarakat
untuk mewaspadai 12 yayasan
dari Timur Tengah yang
ditengarai mendapat suntikan
dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang
dimuat dalam harian ini seolah
menyatakan bahwa memerangi
ideologi teror sama dengan
memerangi ideologi puritan
radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai
Wahabi. Kelompok yang saat ini
menurutnya mengendap-endap
di dunia pendidikan, membawa
suntikan beracun berisi "ideologi
puritan radikal". Antara Wahabi dan Terorisme
Stigma Wahabi merujuk pada
sosok ulama abad ke-18
bernama Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab At-Tamimy An-
Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah
(pembaharuan dan pemurnian)
akidah kaum muslimin dari
beragam kemusyrikan dan
amaliah yang tidak diajarkan
oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai
yang tak pernah menyebut
kiprah dakwahnya dengan
penamaan dakwah Wahabi atau
tak pernah mendirikan
organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru
muncul belakangan, itupun
dengan tujuan stigmatisasi oleh
mereka yang tak setuju dengan
pemikiran yang diusung dalam
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Di Indonesia, stigma Wahabi juga
pernah dilekatkan pada ormas-
ormas Islam seperti
Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan
Persatuan Islam (Persis). Tokoh- tokoh seperti KH Ahmad Dahlan,
Syaikh Ahmad Soorkati, A.
Hassan, dianggap sebagai
pengusung paham Wahabi di
Indonesia. Bahkan, jauh sebelum
itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut
sebagai pengusung dakwah
Wahabi. Baik Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab ataupun
generasi dakwah selanjutnya di
seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak
pernah ada yang dengan tegas
menyatakan dirinya sebagai
Wahabi.
KH. Said Aqil Siradj dalam
tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja
yang masuk dalam kategori
puritan radikal pengusung
dakwah Wahabi. Ia hanya
menjelaskan, kelompok tersebut
tak menghargai perbedaan dan mudah memberikan label sesat
pada sesama Muslim lainnya.
Sama tak jelasnya, ketika ia
melontarkan pernyataan bahwa
ada 12 yayasan milik Wahabi
yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja
yayasan itu, kenapa perlu
diwaspadai, adakah pelanggaran
baik dari sisi hukum nasional
ataupun hukum Islam dari 12
yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak
pernah dijabarkan. Sekali lagi,
apa yang dilontarkan KH Said
Aqil seperti menabur angin,
menerpa siapa saja yang
dianggap sebagai Wahabi. Jika merujuk pada banyak kasus
yang terjadi di basis-basis NU,
maka kelompok puritan radikal
atau Wahabi yang dimaksud KH
Said Aqil adalah mereka yang
membid'ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan
amaliah lainnya yang menjadi
tradisi di kalangan Nahdhiyyin.
Kriteria inilah yang sering
diungkapkan oleh KH Said Aqil di
media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut
sebagai "Wahabi". Namun, adakah
kaitannya antara kelompok
yang berdakwah untuk menjauhi
bid'ah dalam urusan ibadah
dengan kelompok teroris? Nyatanya seluruh ormas Islam di
Indonesia, baik yang meyakini
bolehnya tahlilan atau tidak,
sepakat bahwa aksi
pengeboman di zona damai
adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi
pemboman yang terjadi di
tempat ibadah. Bom yang
dilakukan oleh kelompok yang
mengatasnamakan jihad tentu
mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad
dengan batasan dan aturan
yang ketat dan rinci. Jihad tidak
mengedepankan hawa nafsu dan
serampangan. Jihad sangat
menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di
dalamnya hak-hak sipil. Dalam
perang, musuh yang menjadi
target adalah para combatan
dan basis-basis militer, bukan
orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.
Akhirul kalam, menyebut dakwah
Wahabi sebagai kontributor aksi
teror bom tak pernah bisa
dibuktikan dengan jelas.
Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-
bayang. Kita tentu tak sepakat
dengan sekelompok orang yang
mudah mengkafirkan muslim
lainnya hanya karena urusan
khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang
eksklusif, merasa paling benar,
dan jauh dari nilai-nilai akhlakul
karimah. Jika ada perbedaan
dalam urusan dakwah, maka
selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan
pendapat dalam hal furu'iyah
maka kedepankanlah sikap
tasamuh (toleran). Stigmatisasi
yang tak jelas di tengah
prahara terorisme akan menambah beban masalah yang
melebar ke mana-mana. Selain
persoalan ideologi yang
menyimpang, akar dari
terorisme adalah ketidakadilan
global yang melanda negeri- negeri Muslim. (Dimuat di Harian
Republika, 7 Oktober, 2011)
Sumber : Eramuslim. com
Komentarku ( Mahrus ali ) : . Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang
dimuat dalam harian ini seolah
menyatakan bahwa memerangi
ideologi teror sama dengan
memerangi ideologi puritan
radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai
Wahabi. Kelompok yang saat ini
menurutnya mengendap-endap
di dunia pendidikan, membawa
suntikan beracun berisi "ideologi
puritan radikal". Komentarku ( Mahrus ali ) :
Inna lillah wainna ilaihi rajiun ,
orang gila tak seperti itu bila
berkata atau menulis ,Masak
ajaran Islam yang murni di
anggap beracun lalu ajaran ahli bid`ah di anggap obat yang
manjur . Ini pemikiran yang perlu
di kencangkan , bukan tambah
di buat silang . Kita harus
berpegangan kepada ayat : ْﻉَﺪْﺻﺎَﻓ ﺎَﻤِﺑ ُﺮَﻣْﺆُﺗ ْﺽِﺮْﻋَﺃَﻭ ِﻦَﻋ َﻦﻴِﻛِﺮْﺸُﻤْﻟﺍ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( Al Hijr 94 ) Begitu juga ayat : ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕﺎَﻟﺎَﺳِﺭ َﻥﻮُﻐِّﻠَﺒُﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍًﺪَﺣَﺃ َﻥْﻮَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟَﻭ ُﻪَﻧْﻮَﺸْﺨَﻳَﻭ ﺎًﺒﻴِﺴَﺣ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ﻰَﻔَﻛَﻭ َﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ (yaitu) orang-orang yang
menyampaikan risalah-risalah
Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut
kepada seorang (pun) selain
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.[1] Di dalam artikel itu di katakan
lagi :
Di Indonesia, stigma Wahabi juga
pernah dilekatkan pada ormas-
ormas Islam seperti
Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis). Tokoh-
tokoh seperti KH Ahmad Dahlan,
Syaikh Ahmad Soorkati, A.
Hassan, dianggap sebagai
pengusung paham Wahabi di
Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku
Imam Bonjol pun pernah disebut
sebagai pengusung dakwah
Wahabi. Baik Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab ataupun
generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham
dengan pemikirannya tak
pernah ada yang dengan tegas
menyatakan dirinya sebagai
Wahabi.
Komentarku ( Mahrus ali ) : Apakah ajaran Muhammadiyah,
Al-Irsyad, dan Persatuan Islam
(Persis).di anggap wahabi , lalu
perlu di waspadai dan ajaran
kristen , Budha , Ahli bid`ah di
junjung dan perlu di kembangkan ? .
Ingatlah firman Allah sbb : َﻥﻭُﺪﻳِﺮُﻳ ﺍﻮُﺌِﻔْﻄُﻴِﻟ َﺭﻮُﻧ ِﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢِﻬِﻫﺍَﻮْﻓَﺄِﺑ ُﻪﻠﻟﺍَﻭ ُّﻢِﺘُﻣ ِﻩِﺭﻮُﻧ َﻥﻭُﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ْﻮَﻟَﻭ ) 8) Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Sekali lagi, apa yang dilontarkan
KH Said Aqil seperti menabur
angin, menerpa siapa saja yang
dianggap sebagai Wahabi.
Dalam artikel itu di katakan: Kita tentu tak sepakat dengan
sekelompok orang yang mudah
mengkafirkan muslim lainnya
hanya karena urusan khilafiyah
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kita kafirkan orang yang menurut dalil kafir , dan kita
katakan muslim orang yang
menurut dalil muslim . Ingatlah
ayat allah . ﺎَﻤَّﻧِﺇ َﻝْﻮَﻗ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫِﺇ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﺍﻮُﻋُﺩ ﻰَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻢُﻜْﺤَﻴِﻟ ﺎَﻨْﻌِﻤَﺳ ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﻳ ْﻥَﺃ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑ ﺎَﻨْﻌَﻃَﺃَﻭ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃَﻭ ُﻢُﻫ َﻥﻮُﺤِﻠْﻔُﻤْﻟﺍ Sesungguhnya jawaban orang- orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara
mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.[2] Baca lagi di sini :
Said Aqil Siradj MANTAN KYAI NU: Tutup situs jihad , biarkan situs
porno 02 Okt 2011 MANTAN KYAI NU: KHSaid Aqil Siroj kurang luas wawasan 01 Jun 2011
01 Jun 2011 MANTAN KYAI NU:Said Aqil Pemimpin muslim sejati atau
munafik ? 21 Apr 2011 [1] ( Al ahzab 39 ) [2] An nur 51 Artikel Terkait KH Said Aqil Siroj Label: KH Said Aqil Siroj
Langganan:
Postingan (Atom)